6 Fakta Menarik tentang Nunukan, Gerbang Depan Indonesia yang Punya Banyak Pesona

Nunukan, kabupaten yang terletak di bagian utara Provinsi Kalimantan Utara itu menjadi salah satu gerbang masuk dari Malaysia ke Indonesia. Di wilayah itu terdapat pelabuhan yang menjadi perlintasan antara Nunukan dan Kota Tawau, Malaysia. Sebelum pandemi, setiap harinya sekitar delapan kapal berkapasitas kurang lebih 100 orang melintasi perairan Nunukan menuju Tawau, dan sebaliknya.

Kabupaten hasil pemekaran Bulungan ini dipelopori oleh R.A Besing. Nunukan yang seluas 14.247,50 kilometer persegi ini memiliki moto Penekindidebaya. Moto tersebut berasal dari bahasa Tidung yang berarti membangun daerah.

Di kabupaten ini terdapat Pulau Sebatik. Pulau ini jadi pembatas antara Indonesia dan Malaysia yang dibatasi oleh sebuah sungai. Apabila berkunjung ke Pulau Sebatik, pengunjung akan melihat banyak pos tentara yang berbaris rapi. Menariknya, di pulau ini kita dapat menggunakan dua mata uang, yaitu rupiah dan ringgit.

Tak hanya itu fakta menarik tentang Nunukan. Berikut  enam fakta menarik tentang Nunukan yang harus diketahui.

1. Penghasil Garam Pegunungan

Berbeda dari kebiasaan, garam di sini berasal dari daerah pedalaman Nunukan, yaitu Krayan yang berada di dataran tinggi atau pegunungan. Konon, garam ini diproduksi dari air asin yang terjebak di dalam terowongan yang sangat panjang akibat adanya proses geologi.

Proses produksi garam diawali dengan pengambilan air asin di belakang rumah warga. Setelah itu, para pembuat garam tersebut memasukkan air ke dalam drum dan direbus selama 12 jam hingga terlihat bulir-bulir garam. Apabila telah direbus, garam harus dijemur hingga kering dan siap untuk dikemas.

2. Memiliki Padi Spesial

Selain garam yang berasal dari gunung, Kecamatan Krayan juga memiliki keunikan lain. Krayan terkenal sebagai kecamatan yang memproduksi beras adan, yaitu beras organik yang berkualitas. Beras adan bertekstur pulen dan rasa legit. Konon, beras ini jadi beras favoritnya Sultan Brunei.

Mulai dari proses tanam hingga panen, beras adan diproduksi tanpa tersentuh bahan kimia sedikit pun. Beras adan juga dinilai istimewa lantaran varietas padinya hanya dapat tumbuh di Krayan. Padi telah dicoba untuk ditanam di tempat lain, namun hasilnya nihil.

Menurut sejarahnya, beras adan sempat diklaim milik Malaysia lantaran lokasinya yang tak begitu jauh dari Malaysia. Kini, demi melindungi status beras adan agar tak diakui oleh negara lain, beras ini telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Dirjen Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) pada 2012 lalu.

3. Berpotensi Sebagai Sumber Daya Arkeologi

Pada 2012 lalu, Balai Arkeologi Banjarmasin menggelar penelitian yang menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan berpotensi besar terkait sumber daya arkeologi dari masa prasejarah. Itu lantaran kabupaten ini memiliki sejumlah peninggalan sejarah, di antaranya berupa kubur batu, dolmen, tempayan dolmen, menhir, tetralit, papan menhir, batu narit atau batu berukir, dan juga batu perupun.

4. Peninggalan Suku Dayak Lundayeh

Puncak Yuvai Semaring tempat pahlawan tradisional memberi isyarat kedatangan musuh.

Desa Pa Rupai di Long Bawan menyimpan peninggalan sejarah Suku Dayak Lundayeh sehingga mampu menarik wisatawan mancanegara untuk berkunjung. Terdapat dua peninggalan sejaran utama, salah satunya buaya tanah atau baye tana yang berupa gundukan tanah yang berbentuk seperti buaya. Peninggalan ini dibuat oleh masyarakat beratus-ratus tahun lalu. Buaya tersebut melambangkan keberanian serta kekuatan.

Peninggalan selanjutnya yaitu kuburan batu yang berupa gundukan batu dengan tinggi hampir satu hingga dua meter. Batu tersebut berasal dari sungai di kaki bukit. Konon, kuburan ini milik bangsawan di masa lalu.

Kondisi kuburan batu sudah berlubang pada bagian tengahnya lantaran pencuri ingin mengambil harta yang ikut terkubur bersama jasad para bangsawan. Apabila ingin mengunjungi Long Bawan, wisatawan hanya dapat menggunakan jalur darat. Letaknya yang dekat dengan Malaysia membuat desa ini banyak ditemui mobil dengan pelat Malaysia yang selalu berlalu lalang.

5. Pahlawan Tradisional Nunukan

Menurut legenda sekitar, Yuvai Semaring adalah sosok pahlawan yang sangat dikagumi masyarakat. Dia dikenal sebagai penjaga yang memberikan sinyal kepada masyarakat sekitar ketika musuh datang untuk menyerang. Saat ia memberi isyarat, para laki-laki akan bersiap untuk hadapi musuh dan para perempuan bersembunyi.

Selain itu, Yuvai Semaring juga dikenal sebagai seseorang yang sangat pandai mengukir. Oleh karena itu, masyarakat seringkali meletakkan sarung parang atau gagang parang untuk diukir olehnya di depan gua. Namun, masyarakat sekitar tak pernah sekali pun melihat sosok ini. Mereka hanya dapat mendengar suaranya dari atas bukit Yuvai Semaring dengan ketinggian kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut pada pagi dan ketika ada musuh.

6. Makanan Khas Lawa Mentimun

Lawa Mentimun merupakan makanan khas yang biasa disajikan oleh masyarakat Nunukan. Sesuai dengan namanya, makanan ini terbuat dari mentimun, kelapa parut, dan juga berbahan utama udang galah. Cara membuatnya sangat sederhana, haluskan mentimun lalu campur dengan kelapa yang telah disangrai kering. Setelah itu, udang galah digoreng hingga matang dan dicampurkan bersama bahan sebelumnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed